This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 04 Juni 2009

Trik Atasi Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) pada tanaman Jeruk

Oleh : Agus Budi Setyono, Ir.
 
CVPD termasuk salah satu penyakit yang menjadi momok petani jeruk. Penyakit ini menyerang pada hampir seluruh jenis tanaman jeruk  seperti : jeruk keprok Pulung, jeruk keprok Batu 55, keprok Madura, jeruk manis Pacitan, jeruk nipis Perak, jeruk keprok dan jeruk Siam dan lain-lainnya.
Penyebab Penyakit : Penyakit ini disebabkan oleh bakteri perusak jaringan phloem  atau Liberobacter asiaticum Penyebaran penyakit ini ditularkan oleh kutu loncat (pembawa patogen), Diaphorina citri dan bibit jeruk yang terinfeksi CVPD. Tanaman inang kutu loncat ini adalah kemuning (Muraya peniculata) dari famili Rutaceae.
Gejala Serangan ;  Serangan utama pada kuncup daun dan tunas-tunas muda. Serangan pada tunas-tunas mengakibatkan tunas menjadi keriting dan pertumbuhannya terhambat. Pada tingkat serangan lebih lanjut, bagian yang terserang secara bertahap menjadi kering kemudian mati. Gejala awal dapat dikenali dengan adanya bloctching/motling yaitu warna kuning pada daun yang tidak dibatasi oleh tulang daun dan biasanya tidak simetris seperti yang ditunjukkan oleh daun yang mengalami kekurangan unsur hara (defisiensi). Warna kuning tersebut tembus ke bagian belakang  dan gejala selanjutnya dapat mengakibatkan pertumbuhan daun terhambat yang ditunjukkan oleh daun mengecil, relatif kaku, runcing dan menghadap ke atas. Penyebaran patogen CVPD dalam jaringan phloem daun relatif lambat dibandingkan dengan yang diakibatkan serangan virus lainnya sehingga sering terjadi serangan pada satu ranting yang menimbulkan gejala sektoral. Buah dari pohon yang terserang CVPD jika dibelah dari ujung atas ke bawah nampak bagian buah yang tidak simetris ("lop-sided") dan bijinya abortus, tidak bernas, dan salah satu ujungnya berwarna coklat.
Biologi Hama : Serangga penular penyakit CVPD ini akan lebih aktif pada suhu tinggi (dataran rendah) dibandingkan suhu rendah (dataran tinggi).
Kutu loncat  menghasilkan sekresi berwarna putih berbentuk spiral diletakkan di atas permukaan daun atau pucuk tunas. Kutu loncat , Diaphorina citri  mempunyai 3 siklus hidup yaitu telur, nimfa, dan dewasa. Siklus hidupnya berlangsung selama 16-18 hari pada suhu panas atau + 45 hari pada suhu dingin. Serangga penular ini mampu bertelur  + 800 butir diletakkan secara tunggal atau berkelompok pada kuncup dan tunas-tunas muda sehingga pola pertunasan merupakan faktor penting dalam perkembangannya.
Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat
BPTP (Balai Pengkajian Teknologi pertanian) Karangploso dalam paket rakitan teknologinya yang disusun Arry Supriyanto dkk, merumuskan beberapa strategi/cara-cara pengendalian penyakit CVPD dalam bentuk Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) Adapun strategi PTKJS meliputi lima macam teknologi yang harus diterapkan secara utuh dan tidak bisa dipisahkan yaitu : (1) penggunaan bibit jeruk berlabel bebas penyakit, (2) pengendalian serangga penular CVPD Diaphorina citri Kuw. secara cermat, (3) melakukan sanitasi kebun secara konsisten, (4) memelihara tanaman secara optimal, dan (5) koordinasi penerapan teknologi pengelolaan kebun dalam suatu wilayah target pengembangan. Program PTKJS ini akan efektif/berjalan dengan baik serta mencapai sasaran bila diterapkan pada daerah pengembangan baru atau daerah yang akan direhabilitasi yang telah bebas dari pohon jeruk yang terinfeksi CVPD pada radius 5 km.
Penggunaan Bibit Jeruk Bebas Penyakit
Bibit bermutu diartikan sebagai bibit yang bebas patogen bibit penyakit sistemik seperti CVPD, CTV, Vein enation, Exortis, Psorosis, Xyloporosis dan Tatter leaf, sesuai induknya yaitu batang bawah dan batang atasnya dijamin kemurniannya dan proses produksinya berdasarkan program sertifikasi jeruk yang berlaku sesuai dengan teknologi produksi bibit jeruk bebas penyakit. Petani di daerah target pengembangan diharuskan hanya menanam bibit berlabel/bersertifikat bebas penyakit dan tetap dilarang menanam bibit liar yang tidak diketahui asal usulnya dengan alasan apapun. Dengan menanam bibit berlabel bebas penyakit maka wilayah target pengembangan bebas dari sumber inokulan penyakit CVPD.
Pengendalian Serangga Penular CVPD
Monitoring/pengamatan terhadap perkembangan populasi serangga penular CVPD merupakan langkah yang tepat agar pengendalian serangan penyakit ini lebih tepat sasaran. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa dinamika/pergerakan serangga pembawa penyakit yaitu D. citri tersebut sangat dipengaruhi kondisi lingkungan setempat. Melalui pengamatan ini diharapkan kita dapat mengetahui kapan waktu yang tepat mengendalikan serangga sebelum tanaman kita terjangkit CVPD. Monitoring dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap kuning ("yellow trap") atau METILAT LEM yang dipasang setinggi tajuk (kanopi) tanaman. Pengamatan itu sendiri akan berhasil bila dilakukan secara bersama-sama dan dilakukan serentak oleh setiap anggota kelompok tani jeruk. Artinya setiap kelompok tani bertanggungjawab terhadap sistem pengendalian serangga D. citri di wilayah masing-masing.
Diaphorina citri dapat dikendalikan secara efektif dengan metode penyaputan atau pengolesan batang menggunakan insektisida bahan aktif imidakloprid seperti Winder 25WP dan Winder 100EC atau pestisida sistemik lainnya. Penyaputan batang dapat dilakukan dengan interval setiap 2 – 4 minggu. Selain itu dapat juga dilakukan penyemprotan dengan PENTANA  3 - 5 cc/l pada saat tanaman sedang bertunas. PESTONA untuk mengendalikan telur D. citri sehingga efektif diterapkan pada awal pertunasan. Penyemprotan dengan Natural BVR ( Beuaveria bassiana )  1 sendok makan per tangki untuk memperbanyak musuh alami.  Dengan metode penyaputan batang, diharapkan musuh alami D. citri tidak ikut mati. Tahapan pelaksanaan penyaputan batang dapat dilakukan sebagai berikut : (1) bagian batang di atas bidang penempelan hingga di bawah cabang utama dibersihkan dari kotoran yang menempel, (2) disaput dengan kuas yang sebelumnya dicelupkan dalam Insektisida murni (tidak dilarutkan) dengan tinggi saputan selebar diameter batangnya. Penyaputan batang dapat juga menggunakan alat/mesin khusus penyaput batang. Untuk lingkar batang 18 – 20 cm dosis yang digunakan sebaiknya 10 – 15 ml, (3) tanaman kemudian disiram. Adapun waktu dan frekuensi aplikasi disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Waktu Penyemprotan dan Penyaputan Batang Pohon Jeruk Belum Berproduksi Untuk Mengendalikan D. citri (dibawah 3 tahun)

10
11
12
01
02
03
04
05
06
07
08
09
Penyemprotan BVR
Penyemprotan PENTANA atau PESTONA (kanopi kecil)
Penyaputan batang dengan imidakloprid (kanopi besar)
Pemupukan SUPERNASA + NPK
Penyemprotan GREENSTAR atau POC NASA + HRN
X


X




(X)



X

X


X




(X)













X










X




X




(X)





X


X




(X)

















X

X
X


X




(X)





X


X




(X)



X













Tabel 2. Waktu Penyemprotan dan Penyaputan Batang Pohon Jeruk Produktif Untuk Mengendalikan D. citri (diatas 3 tahun)

10
11
12
01
02
03
04
05
06
07
08
09
PUPUS

BUNGA

PANEN

Penyemprotan PENTANA + Green Star
Penyaputan batang dengan imidakloprid (kanopi besar)
Pemupukan POWER NUTRITION + NPK
XX


XX



X
XX


XX



X
OO


XX    



X
OO


XX




XX







X




OO




OO



X



OO



OO




XX



X

Sanitasi Kebun
Sanitasi kebun diartikan sebagai upaya membuang bagian tanaman atau pohon yang terserang CVPD agar kebun jeruk petani tetap dalam kondisi bebas dari bibit penyakit CVPD.
Pengendalian ranting yang terinfeksi CVPD pada beberapa tempat (sektoral) dapat dilakukan dengan memangkas sampai dua periode pupus sebelumnya. Pohon jeruk yang terinfeksi secara merata harus dibongkar sampai seluruh bagian akar tanaman. Tunas-tunas yang tumbuh dari bekas pangkasan dapat sebagai sumber bibit penyakit CVPD. Sanitasi kebun ini harus melibatkan semua kelompok tani jeruk yang ada, karena dengan melakukan sanitasi secara serentak dan massal pada suatu areal tanaman jeruk, kemungkinan terserangnya jeruk oleh CVPD dapat diperkecil.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dan kebun secara optimal yang meliputi pemupukan, penyiraman, pemangkasan bentuk, penjarangan buah dan pengendalian hama penyakit lainnya dapat meningkatkan produktifitas tanaman. Teknologi pemeliharaan kebun jeruk, dapat berbeda berdasarkan varietas agroklimatnya sehingga bersifat sangat spesifik lokasi. Jika ada satu atau beberapa tanaman yang terinfeksi penyakit CVPD dalam kebun yang dipelihara secara baik, gejalanya akan mudah dikenali sehingga tindakan sanitasi kebun dapat lebih mudah dilakukan. Pemeliharaan kebun yang optimal dapat mempermudah pelaksanaan sanitasi kebun.
Teknologi memajukan pembungaan dan mempertahankan tanaman berbuah sepanjang tahun melalui pemupukan, irigasi dan hormonal telah memberikan keuntungan bagi sebagian petani yang menerapkannya. Di sisi lain teknologi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya pertunasan sepanjang tahun yang perlu diantisipasi sebelumnya. Hal ini sangat erat kaitannya dengan kehadiran serangga pembawa penyakit CVPD ini, sehingga diperlukan teknologi yang ramah lingkungan dan mampu meningkatkan buah secara kuantitas, kualitas dan kelestarian. Teknologi pemupukan NASA dengan memakai SUPERNASA, POWER NUTRITION  dan GREENSTAR ( lihat tabel 1 dan 2 diatas )
Cara Penggunaannya :
a.     1 botol SUPERNASA + 10 kg NPK dicampur 200 liter air kemudian siramkan 2 liter per pohon tiap 3-6 bulan pada tanaman jeruk yang belum produktif ( dibawah 2 tahun )
b.        1 botol POWER NUTRITION + 10 kg NPK dicampur 200 liter air kemudian disiramkan 2 liter per pohon tiap bulan sekali selama 3 x kemudian tiap 3-6 bulan sekali pada tanaman jeruk produktif ( diatas 3 tahun )
c.        Penyemprotan GREENSTAR dosis 1 sachet per tangki atau POC NASA + HORMONIK dosis 4-5 tutup POC NASA + 1 -2 tutup HORMONIK  tiap bulan sekali pada jeruk produktif dan 2 bulan sekali pada jeruk belum produktif.

Jogjakarta, 4 Juni 2009
PT. Natural Nusantara,

Ir. Agus Budi Setyono
TS. Pertanian HPT

Senin, 18 Agustus 2008

KONSEP PENGELOLAAN HAMA TERPADU DAN NASA SEBAGAI PROSES PEMBERDAYAAN PETANI



 Oleh : Ir. Agus Budi Setyono *
                Kita pasti setuju bahwa ” PETANI ”, merupakan Tiang Agung Negara Indonesia  atau penyangga yang besar bagi bangsa Indonesia. Karena Petani merupakan bagian terbesar produsen pangan dan produk-produk pertanian lainnya, yang seharusnya memegang peran dan pelaksana utama pembangunan pertanian di negara Indonesia yang agraris. TETAPI apa yang terjadi sampai detik ini, Petani dan masyarakat pedesaan dalam posisi yang marginal dan memprihatinkan. Petani belum ditempatkan sebagai subyek atau penentu keputusan kegiatan pembangunan pertanian namun tetap sebagai obyek pembangunan pertanian yang secara nasional dirancang dan dilaksanakan oleh Pemerintah, bersama dengan segala jajaran dan petugasnya, serta didukung oleh mitra kerja Pemerintah termasuk dunia usaha dan dunia pendidikan dan penelitian. Banyak jenis program dan proyek pemberdayaan petani telah dilaksanakan oleh Pemerintah, melalui Departemen Pertanian dan departemen lainnya, namun program-program tersebut masih terpusat pada ketergantungan petani pada Pemerintah. Pola pemberdayaan masih satu arah dengan inisiatif dan pelaksana program adalah Pemerintah dengan para petugas lapangannya. Program pemberdayaan petani kurang bersifat partisipatoris sehingga kurang efektif dalam membebaskan petani dari berbagai bentuk cekaman dan tekanan yang menekan kehidupan mereka.
Penerapan secara luas dan seragam program ketahanan pangan nasional yang bertumpu pada teknologi pertanian konvensional membuat petani dan kelompok tani semakin tidak berdaya, tidak mandiri dan tidak percaya diri. Mereka sangat tergantung pada uluran tangan pihak-pihak lain terutama pemerintah, pengusaha dan peneliti. Dengan ketergantungan tersebut berbagai potensi, aktivitas, kreatifitas dan kearifan petani menjadi tersumbat dan tidak dapat dimanfaatkan untuk pembangunan bangsa. Berbagai kendala yang dihadapi petani yang meliputi kendala internal seperti keterbatasan bibit, air, pupuk, pestisida, modal, pengetahuan dan teknologi serta kendala eksternal seperti akses pasar, penetapan harga, perubahan iklim dan lain-lainnya telah digunakan oleh Pemerintah sebagai alasan melakukan intervensi dalam proses pengambilan keputusan petani dalam mengelola lahannya sendiri yang terbatas. Ketergantungan petani pada Pemerintah, pengusaha sarana produksi serta rekomendasi peneliti membuat petani semakin tidak mampu dan tidak berani mengambil keputusan yang terbaik dalam mengelola produksi pertanian yang sesuai dengan keberadaan dan potensi mereka sendiri yang sangat khas lokal. Petani sampai saat ini masih dianggap sebagai obyek berbagai program dan proyek pembangunan pertanian. Bagi pengusaha petani dianggap sebagai pasar potensial banyak jenis produk-produk industri pertanian seperti benih, pupuk, pestisida dan alat mesin pertanian. Bagi sebagian peneliti, petani dianggap sebagai obyek kegiatan penelitian serta sebagai pengguna akhir hasil kegiatan atau proyek penelitian yang dilaksanakan atas biaya dari lembaga pemerintah atau swasta sesuai dengan "pesan-pesan" tertentu.
Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu melaksanakan program pelatihan petani PHT melalui kegiatan SLPHT (Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu) dengan menerapkan pendekatan partisipatoris dan prinsip petani belajar dari pengalaman telah menghasilkan harapan bahwa petani dapat mandiri, percaya diri dan lebih bermartabat sebagai manusia bebas dalam menentukan nasib dan masa depan mereka. Program pelatihan SLPHT dapat menghasilkan para alumni yang mampu melakukan kegiatan perencanaan dan percobaan untuk memperoleh teknologi budidaya tanaman yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi lokal dan kebutuhan petani yang spesifik. Setelah petani menyelesaikan satu periode SLPHT (disebut "alumni" SLPHT) banyak pengalaman, pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan coba-coba yang mereka peroleh di SLPHT kemudian diterapkan dan dilanjutkan di lahan sawahnya masing-masing. Dalam menerapkan berbagai prinsip dan teknologi PHT para petani alumni SLPHT selalu melaksanakannya secara terpadu, holistik dan berkelompok dalam kelompok taninya masing-masing. Hasil positif yang dirasakan petani setelah melalui pengalaman bertahun-tahun, para alumni SLPHT merasa semakin mampu menyelesaikan berbagai permasalahannya selama ini secara mandiri.
Sejak penyelenggaraan SLPHT, banyak konsep dan teknologi yang ditemukan sendiri oleh petani alumni SLPHT di banyak propinsi dan pada banyak komoditi pertanian (pangan, hortikultura, perkebunan). Beberapa teknologi kreasi petani dapat menghasilkan keluaran yang secara ekologi dan ekonomi lebih baik daripada teknologi hasil para peneliti dan lembaga-lembaga penelitian, termasuk peneliti Universitas. Hasil-hasil dan perolehan tersebut membuat petani lebih percaya diri dan ingin disejajarkan dengan kelompok peneliti profesional yang bekerja di lembaga-lembaga penelitian pertanian dan universitas. TETAPI sayangnya, Petani yang sudah lulus SL-PHT biasanya malas menerapkan ilmu yang telah didapat dari Pelatihan SL-PHT, misal membuat ekstrak racun dari tanaman untuk hama, membuat pestisida organik, memperbanyak jamur yang berguna seperti Gliocladium, Trichoderma, Beauveria bassiana, Virus Spodpter sp. , dll. Karena memang sifat petani kita yang kebanyakan penginnya yang siap saji (instan), langsung bisa digunakan, praktis, ekonomis dan tidak merepotkan.
Untuk itu Natural Nusantara ( NASA ) mencoba menjembati Konsep PHT dengan SL-PHTnya yang luar biasa dengan menciptakan produk-produk yang  ramah lingkungan  atas dasar penalaran dan prinsip-prinsip PHT adalah : budidaya tanaman sehat, lestarikan dan manfaatkan musuh alami, pengamatan ekosistem berkala, dan petani sebagai ahli PHT. Teknologi NASA yang praktis dan siap pakai seperti PESTONA, PENTANA, Natural GLIO, Natural BVR, VITURA, VIREXI dan Metilat LEM. NASA juga ingin membantu program pemerintah dengan  memberikan pendidikan kepada petani NASA lewat trainingptraining khusus SL-PHT supaya pola pikir, mental, motivasi , ilmu pengetahuan dan teknologi  bisa lebih diberdayakan. Dengan teknologi NASA kita bisa memanfaat hasil penelitian yang telah diteliti di akademis untuk digunakan langsung secara praktis dan siap pakai serta ekonomis bagi para petani. Alhamdulillah kurang lebih 7 tahun berkarya NASA telah mampu membuktikan dan merealisasikan kepada petani-petani NASA minimal 5 aspek dasar :  1. Aspek Pendidikan. Kami bisa menjalankan layanan konsultasi, dan kurikulum pendidikan dan pelatihan utk up grade skill, mental, motivasi, pola pikir. 2. Aspek Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Siapapun, di manapun, latar belakang apapun bisa mengakses peluang dan kesempatam bisnis yang bisa upgrade modal dan pendapatan. Dan petani tidak selalu jadi objek, tetapi bisa jadi subjek bisnis. 3. Aspek Lapangan Kerja. Sekecil apapun kontribusi kami tetapi kami telah berbuat membantu mengurangi pengangguran yg menjadi masalah di negeri ini. NASA mampu menyerap paling tidak 5% bahkan lebih dari total pengangguran 4. Aspek Keadilan. Prestasi menjadi syarat mutlak utk sukses di NASA, bukan karena kapital maupun power/kekuasaan sebagai penentu kesuksesan. 5. Aspek Nasionalisme. Kami membuktikan produk dalam negeri tidak selalu kalah dengan produk luar negeri, Kami membangun sistem yang bisa membentengi / mencegah keluarnya devisa negara akibat menggunakan produk luar negeri.
Mudah-mudahan penerapan konsep PHT dan NASA bisa sebagai alternatif solusi untuk meningkatkan pemberdayaan petani Indonesia, sehingga bisa mewujudkan Indonesia makmur raya yang berkeadilan.
Sukses untuk petani-petani NASA.